Kamis, 13 September 2012

RESPIRASI PADA TUMBUHAN



1.1. Latar Belakang Masalah
 Semua sel aktif melakukan respirasi sepanjang hidupnya, menyerap oksigen   dan melepaskan karbondioksida. Namun respirasi adalah lebih dari sekedar pertu-karan gas-gas. Respirasi adalah proses oksidasi reduksi yang mengoksidasi senyawasenyawa menjadi karbondioksida, sedangkan oksigen yang diserap direduksi menjadi air (H2O). Proses utama respirasi adalah mobilitas senyawa organikdan oksidasi senyawa-senyawa tersebut secara terkendali untuk  menghasilkan.Energi bagi pemeliharaan dan perkembangan tumbuhan.Menurut Theodorus (2010) respirasi pada tumbuhan menyangkut proses pem-bebasan energi kimiawi menjadi energi yang diperlukan untuk aktivitas hidup tu-mbuhan. Energi ini diproleh dengan cara menyadap energi kimia yang terbentuk dalam molokul organik yang disintesis oleh proses fotosintesis. Fisiologi tumbu-ha merupakan cabang biologi yang mempelajari tentang proses metabolisme yang terjadi di dalam tubuh tumbuhan yang menyebabkan tumbuhan tersebut dapat hidup. Laju proses proses metabolisme ini dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan mikro disekitar tumbuhan tersebut. Fotosintesis dan respirasi merupa-kan proses metabolisme dasar yang terjadi  didalam sel hidup.
Dalam makalah ini,penulis membahas tentang, respirasi pada  tumbuhan,alatrespirasi pada tumbuhan dan proses respirasi pada tumbuhan.Proses respirasi padatumbuhan ini terdiri atas dua bagian, yaitu respirasi aerob dan respirasi anaerob.  Dimana menurut Anas (2012) respirasi aerob adalah respirasi yang membutuhkanoksigen (O2). Respirasi aerob ini terjadi  dalam matriks mitokondria.   Proses respirasi aoerob terbagi atas empat, yaitu glikolisis, dekarbosilasi oksi-datif, siklus asam sitrat/siklus krebs, dan transfer elektron. Sedangkan, menurut  Anas (2012) respirasi anaerob adalah respirasi yang tidak memerlukan oksigen     (O2). Respirasi anaerob terjadi pada sitoplasma, proses respirasi anaerob adalah    fermentasi.


1.2. Rumusan Masalah
    Rumusan masalah dari makalah ini adalah :
1.    Menjelaskan pengertian resprasi.
2.    Menjelaskan alat respirasi pada tumbuhan.
3.    Menjelaskan proses respirasi pada tumbuhan.

1.3. Tujuan Makalah
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.    Memenuhi tugas mata kuliah Fisiologi Tumbuhan dan mempresentasikannya   dalam diskusi kelas.
2.    Memahami pengertian respirasi, alat respirasi pada tumbuhan dan mekanisme  proses respirasi pada tumbuhan.

1.4. Manfaat Makalah
Adapun manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini adalah:
1.    Sebagai bahan informasi bagi penulis tentang respirasi pada tumbuhan, alat respirasi pada tumbuhan dan proses-proses yang terjadi dalam respirasi.
2.    Sebagai bahan informasi tambahan dalam mata kuliah Fisiologi Tumbuhan.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Respirasi Pada Tumbuhan
Menurut Luqman (2012) respirasi pada tumbuhan adalah proses penguraian bahan makanan yang menghasilkan energi. Respirasi dilakukan oleh semua peny-sunan tubuh, baik sel-sel tumbuhan maupun sel hewan dan manusia. Respirasi di dilakukan baik pada siang maupun malam hari. Sebagaimana kita ketahui dalam semua aktivitas makhluk hidup memerlukan energi begitu juga dengan tumbuhan.   Menurut Theodorus (2010) respirasi pada tumbuhan menyangkut proses pembebasan energi kimiawi menjadi energi yang diperlukan untuk aktivitas hidup tumbuhan. Energi ini diproleh dengan cara menyadap energi kimia yang terbentuk dalam molokul organik yang disintesis oleh proses fotosintesis. Proses pelepasan energi yang menyediakan energi bagi keperluan sel itu dikenal dengan istilah proses respirasi. Menurut Tarigan (2012) respirasi pada tumbuhan adalah proses pertukaran gas O2 dengan CO2 sebagai hasil metabolisme normal dan zat yang dibutuhkan atau diperlukan dalam pernapasan itu sendiri. Respirasi merupakan pembakaran (metabolisme atau disimilasi) dimana energi yang disimpan tadi di
Kembalikan lagi untuk mengembalikan proses-proses kehidupan atau respirasi adalah proses pembokaran energi yang tersimpan untuk dimanfaatkan dalam proses-proses kehidupan. Sedangkan Agustina (2012) respirasi pada tumbuhan adalah pertukaran gas dan respirasi sel. Pertukaran gas adalah proses pengambilan oksigen dan pengeluaran karbon dioksida melalui alat pernapasan tumbuhan. Respirasi sel adalah penguraian senyawa kompleks menjadi senyawa lebih seder  hana dengan membebaskan energi. Mitokondria adalah tempat dimana fungsi       respirasi pada makhluk hidup berlangsung. Senyawa kompleksnya dapat berupa karbohidrat, lemak, dan protein. Energi yang didapatkan dari proses respirasi digunakan untuk aktifitas metabolisme tubuh tumbuhan.

2.2.    Alat Respirasi Pada  Tumbuhan
Alat respirasi tumbuhan letaknya tersebar. Tumbuhan dapat melakukan pertu-karan gas melalui stomata, lenti sel, dan rambut akar. Pada tumbuhan tertentu, respirasi dilakukan melalui alat khusus,misalnya akar napas pada tumbuhan bakau maupun beringin. Berikut ini akan dijelaskan alat-alat repirasi tumbuhan.
v    Stomata
    Stomata atau mulut daun terdiri atas celah atau lubang yang dikelilingi oleh dua sel penjaga dan terletak di daun. Stomata berfungsi sebagai tempat pertukaran gas pada tumbuhan, sedangkan sel penjaga berfungsi untuk mengatur, membuka dan menutupnya stomata. Stomata pada daun dapat dilihat pada Gambar 2.1.

v    Lentisel
Lentisel merupakan lubang-lubang yang terdapat pada batang. Lenti sel mengakibatkan sel-sel tetap hidup di dalam batang melalui pertukaran gas dengan udara luar. Lentisel pada batang dapat dilihat pada Gambar 2.2

 

v    Rambut Akar
Selain untuk menghisap air dan garam-garam mineral, rambut akar berfungsi sebagai alat pernapasan. Sel-sel rambut akar akan mengambil oksigen pada pori-pori tanah. Rambut akar dapat dilihat pada Gambar 2.3.
     
v    Alat Pernapasan Khusus
Kemampuan tumbuhan beradaptasi terhadap lingkungan menghasilkan alat pernapasan khusus. Tumbuhan bakau yang hidup dilingkungan air lautmempunyai akar yang tumbuh keatas permukaan tanah untuk memperoleh oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida. Akar tersebut disebut akar napas. Pohon beringin dan anggrek mempunyai akar gantung untuk bernapas. Akar tersebut tumbuh dari batang dan menggantung kearah tanah. Pada saat masih menggantung, akar ini menyerap uap air dan gas dari udara. Akan tetapi setelah masuk ke tanah, akar tersebut berfungsi menyerap air dan garam mineral. Tumbuhan yang  hidup di air seperti enceng gondok dan kangkung, batangnya mempunyai rongga-rongga udara yang  besar berfungsi untuk menyalurkan oksigen.     
2.3.    Proses Respirasi Pada Tumbuhan
Proses respirasi pada tumbuhan dapat digolongkan menjadi dua jenis berdasar-kan ketersediaan O2 di udara, yaitu respirasi aerob dan respirasi anaerob.
1.    Respirasi Aerob
Respirasi aerob merupakan proses respirasi yang membutuhkan O2 dari udara. Proses pada respirasi ini melibatkan absorbsi oksigen, memecah senyawa organik, misalnya glukosa (KH) menjadi senyawa yang lebih sederhana (CO2 & H2O),   membebaskan energi sebagian energi dipakai untuk proses kehidupan, sebagian   hilang sebagai panas, dan membebaskan CO2 dan H2O. Peristiwa ini terjadi pada sel yang masih hidup respirasi terjadi pada sitoplasma dan mitokondria. Proses respirsi aerob pada tumbuhan ini dibedakan menjadi empat yaitu glikolisis, dekar-boksilasi asam piruvat, siklus krebs (reaksi asam laktat) dan rantai transport elekt-ron. Berikut akan dijelaskan proses respirasi aerob pada tumbuhan.
a.    Glikolisis
v    Proses Glikolisis
Glikolisis adalah serangkaian reaksi biokimia dimana glukosa dioksidasi menjadi molekul asam piruvat. Glikolisis adalah salah satu proses metabolisme yang paling universal yang kita kenal, dan terjadi (dengan berbagai variasi) di banyak jenis sel dalam hampir seluruh bentuk organisme. Proses glikolisis sendiri meng-hasilkan lebih sedikit energi per molekul glukosa dibandingkan dengan oksidasi
aerobik yang sempurna. Glikolisis secara harfiah berarti pemecahan glukosa. Jalur glikolisis ditemukan di dalam sitosol dari sel, mempunyai dua peranana yaitu       pemecahan monosakarida untuk menghasilkan energi dan menyediakan satuan pembentuk untuk sintesa senyawa yang diperlukan sel seperti gliserol untuk sintesa trigliserida atau lemak. Sebelum glikolisis dapat berlangsung, sebuah sel harus memperoleh glukosa. Glukosa ini disimpan sebagai glikogen. Glikogen menjadi glukosa (atau bentuk monosakarida lain). Hasil glikolisis adalah dua unit senyawa yang mengandung tiga atom karbon yaitu asam piruvat. Sebagian sel-sel mengubah asam piruvat menjadi asam laktat.
Glikolisis dimulai dengan penambahan satu gugus fospat ke glukosa, sehingga menjadi lebih reaktif. Satu gugus fospat yang lainnya di tambahkan ke senyawa glukosa-fospat yang baru terbentuk yang kemudian dipecah menjadi senyawa karbon yang mengandung tiga atom karbon. Senyawaan ini diubah melalui serangkaian tahapan menjadi dua molekul piruvat. Maka dalam glikolisis sebuah sel memulai dengan satu molekul glukosa dan menghasilkan dua molekul yang mengandung tiga atom karbon yakni piruvat. Di dalam proses ini empat hidrogen(mengandung total empat elektron) dikeluarkan dan empat ATP terbentuk. Elektron dan hidrogen ditangkap oleh pembawa (carrier) dalam hal ini NAD. Setiap NAD (bentuk teroksidasi) menerima dua elektorn dan satu ion hidrogen, menghasilkan NADH + H+ (bentuk tereduksi). Maka salah satu hasil akhir dari glikolisis adalah juga sintesa dari dua NADH + H+, dengan pelepasan dua ion hidrogen.
Di dalam glikolisis, reaksi pertama melibatkan satu ATP menyumbangkan satu gugus fospat ke glukosa. Pada tahap ketiga, satu lagi ATP digunakan menambah satu gugus fospat kedua. Maka untuk memulai jalur ini, satu sel memakai dua ATP. Pada saat molekul yang mengandung tiga atom karbon diubah menjadi piruvat, masing-masing menghasilkan dua ATP, sehingga total ada 4 ATP. Energi bersih yang dihasilkan sejauh ini dari glikolisis adalah dua ATP, karena dua ATP digunakan didalam proses dan empat ATP di hasilkan. Masih ada ATP yang akan terbentuk; ini hanya menyatakan sebanyak 5% dari total produksi ATP yang mungkin dari satu molekul glukosa. Energi kimia yang disimpan di dalam ikatan NADH akhirnya dapat ditransfer ke ATP. Pada umumnya setiap NADH + H+ menyumbangkan energy yang cukup untuk menghasilkan 2,5 ATP. Maka NADH + H+ adalah satu bentuk dari energi potensial untuk sel. Pada akhirnya sel memakai energi di dalam NADH+ H+ membentuk ATP (Simanjuntak dan Silalahi, 2003).
Glikolisis terdiri dari 2 fase: Fase preparasi (preparatory phase), yaitu fosforilasi glukosa dan konversinya menjadi gliseraldehid 3-fosfat. Fase pembayaran (payoff phase), yaitu konversi oksidatif gliseraldehid 3-P menjadi piruvat disertai pembentukan ATP dan NADH.
Hasil reaksi glikolisis:
Glukosa + 2NAD+ + 2ADP + 2Pi ———-> 2Piruvat + 2NADH + 2H+ + 2ATP + 2H2O

Enzim yang terlibat dalam glikolisis adalah heksokinase, fosfoheksoisomerase,     fosfofruktokinase, aldolase, triosafosfat, dan isomerase. Proses glikolisis dapat
Keterangan Gambar :


 a)   Tahap penggunaan  energi:
(1) Penambahan gugus fosfat pada molekul glukosa dengan bantuan  enzim heksokinase sehingga terbentuk glukosa 6-fosfat.
(2)  Glukosa 6-fosfat diubah menjadi isomer nya yaitu fruktosa 6-fosfat.
(3)  Fosfofruktokinase mentransfer gugus fosfat dari ATP ke fruktosa 6-fosfat fruktosa 1,6 bisfosfat.
(4) Aldolase membagi molekul gula (fruktosa 1,6 bisfosfat) menjadi 2 molekul  gula yang berbeda dan merupakan isomernya.
(5) Dua molekul gliseraldehid postat masing-masing akan masuk pada tahapan   glikolisis selanjutnya.
 b) Tahap pelepasan  energi:
(1) Triosafosfat dehidrogenase mengkatalisis pemindahan elektron dan H+  dari substrat (gliseraldehid fosfat) ke NAD+ membentuk NADH.
(2) Glikolisis menghasilkan ATP. Gula telah diubah menjadi senyawa asam organik oleh fosfogliserokinase.
(3) Gugus fosfat dipindahkan sehingga menjadi 2-fosfogliserat oleh  fosfogliseromutase.
(4) 2-fosfogliserat melepaskan molekul H2O sehingga terbentuk fosfoenol piruvat kinase oleh enolase.
(5) Piruvat kinase mentransfer gugus fosfat sehingga menghasilkan 2  ATP lagi.

b.    Dekarboksilasi Asam Piruvat
v    Proses Dekarboksilasi Asam Piruvat
Dekarboksilasi asam piruvat merupakan suatu tahapan proses reaksi/ pemecah-an  pembongkaran senyawa kimia kompleks yang mengandung energi tinggi men-jadi senyawa sederhana yang mengandung energi lebih rendah, yang merupakan lanjutan dari proses glikolisis (proses pengubahan molekul sumber energi, yaitu glukosa yang mempunyai 6 atom C manjadi senyawa yang lebih sederhana, yaitu asam piruvat yang mempunyai 3 atom C).
Menurut Wapedia (2010) dekarboksilasi merujuk pada reaksi kimia yang menyebabkan gugus karboksil (-COOH) terlepas dari senyawa semula menjadi karbon dioksida (CO2). Setelah melalui reaksi glikolisis, jika terdapat molekul oksigen yang cukup maka asam piruvat akan menjalani tahapan reaksi selanjutnya, yaitu siklus Krebs yang bertempat di matriks mitokondria. Jika tidak terdapat molekul oksigen yang cukup maka asam piruvat akan menjalani reaksi fermentasi. Akan tetapi, asam piruvat yang mandapat molekul oksigen yang cukup dan akan meneruskan tahapan reaksi tidak dapat begitu saja masuk ke dalam siklus Krebs, karena asam piruvat memiliki atom C terlalu banyak, yaitu 3 buah. Persyaratan molekul yang dapat menjalani siklus Krebs adalah molekul tersebut harus mempunyai dua atom C (2 C). Karena itu, asam piruvat akan menjalani reaksi dekarboksilasi oksidatif (Joker 2009). Menurut Nurqonaah (2009), Dekarbosilasi adalah reaksi yang mengubah asam piruvat yang beratom 3 C menjadi senyawa baru yang beratom C dua buah, yaitu asetil koenzim-A (asetil ko-A). Reaksi dekarboksilasi oksidatif ini (disingkat DO) sering juga disebut sebagai tahap persiapan untuk masuk ke siklus Krebs. Reaksi DO ini mengambil   tempat di intermembran mitokondria. Pertama-tama, molekul asam cuka yang dihasilkan reaksi glikolisis akan melepaskan satu gugus karboksilnya yang sudah teroksidasi sempurna dan mengandung sedikit energi, yaitu dalam bentuk molekul CO2. Setelah itu, 2 atom karbon yang tersisa dari piruvat akan dioksidasi menjadi asetat (bentuk ionisasi asam asetat). Selanjutnya, asetat akan mendapat transfer elektron dari NAD+ yang tereduksi menjadi NADH. Kemudian, koenzim A (suatu senyawa yang mengandung sulfur yang berasal dari vitamin B) diikat oleh asetat dengan ikatan yang tidak stabil dan membentuk gugus asetil yang sangat reaktif, yaitu asetil koenzim-A, yang siap memberikan asetatnya ke dalam siklus Krebs untuk proses oksidasi lebih lanjut (Lihat gambar ). Selama reaksi transisi ini, satu molekul glukosa yang telah menjadi 2 molekul asam piruvat lewat reaksi glikolisis menghasilkan 2 molekul NADH. Perubahan piruvat menjadi asetil Ko A dapat dilihat pada gambar 2.6. dan Gambar 2.7. Mekanisme dekarboksilasi asam piruvat.
c.    Daur Asam Sitrat (Siklus Krebs)
v    Proses Asam Sitrat (Siklus Krebs)
Proses siklus krebs terbagi atas beberapa tahapan. Pertama-tama asetil ko-A (koenzim A) hasil dari reaksi antara(dekarboksilasi oksidatif) masuk kedalam       siklus dan bergabung dengan asam oksaloasetat  membentuk asam sitrat. Setelah "mengantar"asetil masuk ke dalam siklus Krebs, ko-A memisahkan diri dari asetil dan keluar dari siklus. Kemudian, asam sitrat mengalami pengurangan dan pena-mbahan satu molekul air sehingga terbentuk asam isositrat. Lalu, asam isositrat
mengalami oksidasi dengan melepas ion H+ yang kemudian mereduksi NAD+ menjadi NADH, dan mele-paskan satu molekul CO2 dan membentuk asam α-ketoglutarat.
Setelah itu,asam α-ketoglutarat kembali melepaskan satu  molekul CO2 dan
teroksidasi dengan melepaskan satu ion H+ yang kembali mereduksi NAD+ menjadi NADH. Selain itu, asam α-ketoglutarat mendapatkan tambahan satu ko-A
dan membentuk suksinil ko-A. Setelah terbentuk suksinil ko –A molekul ko-A
kembali meninggalkan siklus,sehingga terbentuk asam suksinat. Pelepasan ko-A
dan perubahan suksinil ko-A menjadi asam suksinat menghasilkan cukup energi untuk untuk menggabungkan satu molekul ADP dan satu gugus fosfat anorganik menjadi satu molekul ATP. Kemudian,asam suksinat mengalami oksidasi dan melepaskan dua ion H+, yang kemudianditerima oleh FAD dan membentuk FADH 2 dan terbentuklah asam fumarat. Satu molekul air kemudian ditambahkan ke asam fumarat dan menyebabkan perubahan susunan (ikatan) substrat pada asam fumarat, karena itu asam fumarat berubah menjadi asam malat.Terakhir,      asam malat mengalami oksidasi dan kembali melepaskan satu ion H+ yang kemudian diterima oleh NAD+ dan membentuk NADH,dan asam oksaloasetat kembali terbentuk. Asam oksaloasetat ini kemudian akankembali mengikat asetil ko-A dan kembali menjalani siklus Krebs.Siklus Krebs ini dari setiap molekul glukosa akan menghasilkan 2 ATP, 6 NADH, 2FADH2 dan 4 CO2. Selanjutnya, molekul NADH dan FADH2 yang terbentuk akan menjalani rangkaian terakhir respirasi aerob, yaitu rantai transpor elektron. Siklus krebs dapat dilihat pada Gambar 2.8.




v    Reaksi-Reaksi Dalam Siklus Krebs
Pertama-tama asetil ko-A bereaksi dengan oksaloasetat dan menjadi sitrat dengan melibatkan enzim sitrat sintase, reaksi berlangsung dengan terjadinya kon-densasi asetil ko-A dengan oksaloasetat dan membentuk sitril ko-A, kemudian sitril ko-A dihidrolisis menjadi sitrat dan ko-A.
Tahap kedua, sitrat menjadi cis-sitrat dengan melibatkan enzim acanitase, yaitudengan menghidrolisis sitrat yang merupakan isomer dari isositrat dan meng-
hasilkan cis-asositat sebagai intermedietnya.

Tahap ketiga, cis-aconitate menjadi isositrat, dalam reaksi ini juga melibatkan
Enzim aconitase dengan saling menukarkan atom H dengan gugus OH dari tahap kedua di atas.

Tahap keempat, terjadinya reaksi isositrat menjadi α  ketoglutarat dengan
melibatkan enzim isositrat dehidrogenase, melalui proses dekarboksilasioksidatif dari isositrat menjadi oksalosuksinat sebagai intermedietnya. Lalu CO2  meninggalkan oksalosuksinat yang kemudian berubah menjadiα-ketoglutarat. Reaksi ini menghasilkan NADH.

Tahap kelima,α-ketoglutarat menjadi suksinil ko-A dengan melibatkan enzimα-ketoglutarat dehidrogenase. Reaksi ini hampir sama dengan reaksi dekarboksilasioksidatif dari piruvat menjadi asetil ko-A oleh kompleks piruvat dehidrogenase. Reaksi ini menghasilkan 1NADH.

Tahap keenam, suksinil ko-A. Menjadi suksinat yang melibatkan enzim suksinil ko-A sintase, dengan reaksi fosforilasi ikatan thioester dari suksinil dan ko-Ayang banyak energinya. Langkah ini merupakan satu-satunya yang memberikanenergi tinggi. GTP dihasilkan oleh beberapa reaksi thioester dan fosforilasi dari GDP.

Tahap kedelapan, fumarat menjadi L-malat dengan melibatkan enzim Lmalase, dimana pada masuknya H2O ke dalam fumarat yang kemudian menghasilkan L-malat.


Tahap kesembilan, L-malat menjadi oksaloasetat dimana pada reaksi initerjadi oksidasi malet yang dihidrogenasi menjadi bentuk oksaloasetat denganakseptor NAD. Reaksi ini melibatkan enzim malat dehidrogenase dan menghasilkan          NADH2.


Tahap terakhir, reaksi oksaloasetat dengan asetil ko-A menjadi sitrat denganmelibatkan enzim sitrat sintase melalui reaksi kondensasi oksaloasetat dengan asetilko-A menjadi sitril ko-A. Lalu sitril ko-A dihidrolisis lagi menjadi sitrat dan ko-A.

Jika dilihat dari siklus Krebs pada gambar 1 dapat dikatakan kalau setelah terjadi proses terakhir ini reaksi kembali terulang terus-menerus dan menghasikan energi.
v    Hasil Siklus Krebs
    Pada akhir siklus krebs ini akan terbentuk kembali asam oksaloasetat yang berikatan dengan molekul asetil koenzim A yang lain dan berlangsung kembali siklus krebs, karena selama reaksi oksidasi pada molekul glukosa hanya dihasilkan 2 molekul asetil koenzim A, maka siklus Krebs harus berlangsung sebanyak dua kali. Jadi hasil bersih dari oksidasi 1 molekul glukosa akan dihasilkan 2 ATP dan 4 CO2 serta 8 pasang atom H yang akan masuk ke rantai transpor elektron.
2. Respirasi anaerob
Respirasi anaerob merupakan proses repirasi yang berlangsung tanpa membutuhkan O2. Respirasi anaerob sering disebut juga dengan nama fermentasi. Respirasi anaerob biasanya terdapat pada tanaman tinggi hanya terjadi jika persediaan O2 bebas di bawah minimum, pada biji-bijian yang tampak kering (jagung, padi, biji bunga matahari), buah-buahan yang berdaging seperti buah apel & peer dapat bertahan berbulan-bulan di dalam penyimpanan, dimana hanya terdapat H & N saja, buah terus menghasilkan CO2.
Hasil respirasi anaerob pada tanaman tingkat tinggi adalah asam sitrat, asam malat, asam oksalat, asam lartarat, asam susu. Respirasi anaerob merupakan salah satu proses katabolisme yang tidak menggunakan oksigen bebas sebagai penerima atom hidrogen (H) terakhir, tetapi menggunakan senyawa tertentu (seperti : etanolasam laktat). Pada kondisi aerobik (tersedia oksigen) sistem enzim mitokondria   mampu mengkatalisis oksidasi asam piruvat menjadi H2O dan CO2 serta mengha-silkan energi dalam bentuk ATP(Adenosin Tri Phosphat).
Pada kondisi anaerobik (tidak tersedia oksigen), suatu sel akan dapat mengubah asam piruvat menjadi CO2 dan etil alkohol serta membebaskan energi (ATP). Atau oksidasi asam piruvat dalam sel otot menjadi CO2 dan asam laktat serta membebaskan energi (ATP). Bentuk proses reaksi yang terakhir disebut, lazim dinamakan fermentasi. Proses ini juga melibatkan enzim-enzim yang terdapat di dalam sitoplasma sel. Respirasi anaerobik adalah reaksi pemecahan karbohidrat untuk mendapatkan energi tanpa menggunakan oksigen. Respirasi anaerobik menggunakan senyawa tertentu misalnya asam fosfoenol piruvat atau asetal dehida, sehingga pengikat hidrogen dan membentuk asam laktat atau alcohol. Respirasi anaerobik terjadi pada jaringan yang kekurangan oksigen, akan tumbuhan yang terendam air, biji – biji yang kulit tebal yang sulit ditembus oksigen, sel – sel ragi dan bakteri anaerobik. Bahan baku respirasi anaerobik pada peragian adalah glukosa. Selain glukosa, bahan baku seperti fruktosa, galaktosa dan malosa juga dapat diubah menjadi alkohol. Hasil akhirnya adalah alkohol, karbon dioksida dan energi. Glukosa tidak terurai lengkap menjadi air dan karbondioksida, energi yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan respirasi aerobik. Pada respirasi anaerob, tahapan yang ditempuh meliputi :
1.    Tahapan glikolisis, dimana 1 molekul glukosa ( C6 ) akan diuraikan menjadi asam piruvat, NADH dan 2 ATP.
2.    Pembentukan alkohol (fermentasi alkohol), atau pembentukan asam laktat      
(fermentasi asam laktat).Akseptor elektron terakhir bukan oksigen, tetapi senyawa lain seperti : alkohol, asam laktat.
3.    Energi ( ATP ) yang dihasilkan.
Reaksi Respirasi Anaerob :
C6H12O6 Ragi >> 2C2H5OH + 2CO2 + 21Kal n sekitar 2 ATP.
Proses respirasi pada anaerob adalah fermentasi. Fermentasi pada respirasi anaerob terbagi atas dua jenis, yaitu : fermentasi alkohol dan fermentasi asam laktat. Berikut ini akan dijelaskan mengenai fermentasi alcohol dan fermentasi asam laktat.
a.    Fermentasi Alkohol
Proses fermentasi pada alkohol ini terjadi pada beberapa mikroorganisme seperti jamur (ragi), dimana tahapan glikolisis sama dengan yang terjadi pada respirasi aerob. Setelah terbentuk asam piruvat ( hasil akhir glikolisis ), asam piruvat mengalami dekarboksilasi (sebuah molekul CO2 dikeluarkan ) dan dikatalisis oleh enzim alkohol dehidrogenase menjadi etanol atau alkohol  dan terjadi degradasi molekul NADH menjadi NAD+ serta membebaskan energi/kalor. Proses ini dikatakan sebagai "pemborosan" karena sebagian besar energi yang terkandung dalam molekul glukosa masih tersimpan di dalam alkohol. Itulah sebabnya, alkohol/etanol dapat digunakan sebagai bahan bakar. Fermentasi alkohol pada mikroorganisme merupakan proses yang berbahaya bila konsentrasi etanolnya tinggi.

Secara sederhana, reaksi fermentasi alkohol ditulis :
         2CH3COCOOH ----------> 2CH3CH2OH + 2CO2 + 28 kkal
          asam piruvat                           etanol/alkohol
b.    Fermentasi asam laktat.
Pada sel hewan ( juga manusia ) terutama pada sel-sel otot yang bekerja keras , energi yang tersedia tidaklah seimbang dengan kecepatan pemanfaatan energi karena kadar O2 yang tersedia tidak mencukupi untuk kegiatan respirasi aerob ( reaksi yang membutuhkan oksigen ). Proses fermentasi asam laktat dimulai dari lintasan glikolisis yang menghasilkan asam piruvat. Karena tidak tersedianya oksigen maka asam piruvat akan mengalami degradasi molekul (secara anaerob) dan dikatalisis oleh enzim asam laktat dehidrogenase dan direduksi oleh NADH untuk menghasilkan energi dan asam laktat.
Secara sederhana reaksi fermentasi asam laktat ditulis sebagai berikut.
  2CH3COCOOH ----------> 2CH3CHOHCOOH   + 47  kkal        
          Asam piruvat                           Asam laktat

2.4. Substrat Respirasi
Substrat respirasi adalah setiap bahan organik tumbuhan yang teroksidasi sebagian (menjadi senyawa teroksidasi) atau reteduksi sempurna (menjadi karbondioksida dan uap air) dalam metabolisme respiratoris. Umumnya substrat untuk respirasi adalah zat yang tertimbun dalam jumlah yang relatif banyak dalam sel tumbuhan dan bukan zat yang merupakan senyawa antara hasil dari penguraian. Hasil penguraian biasanya disebut metabolik antara.
Karbohidrat merupakan substrat utama respirasi dalam sel-sel tumbuhan dengan glukosa sebagai molekul pertama. Substrat respirasi yang paling penting di antara karbohidrat adalah sukrosa (disakarida= glukosa dan fruktosa) dan pati (sering terdapat dalam sel tumbuhan sebagai cadangan karbohidrat).
Dalam beberapa jaringan tumbuhan, selain karbohidrat, senyawa lain kadang-kadang dapat menjadi substrat respirasi. Pada biji-biji tertentu, seperti jarak, mengandung lemak yang sangat tinggi sebagai bahan cadangan yang terdapat di dalam jaringan endosperma yang mengelilingi embrio. Selama beberapa hari pertama perkecambahan, lemak ini akan diubah menjadi sukrosa yang selanjutnya diserap dan direspirasi oleh embrio yang sedang tumbuh.
Pada keadaan tertentu dalam beberapa jaringan tumbuhan juga, beberapa asam organik dapat digunakan sebagai substrat respirasi, misalnya asam organik berkerbon empat (asam malat) yang ditimbun dalam daun tumbuhan sukulen familia Crassulaceae, asam malat ini direspirasi menjdi karbondioksida dan air melalui mekanisme khusus; asam organik berkarbon dua (asam glikolat), yang ditimbun dalam daun yang disinari sebagian besar tumbuhan tinggi juga dapat digunakan untuk respirasi. Protein jarang direspirasi kecuali dalam keadaan tertentu. Protein berperan sebagai substrat respirasi selama tahap awal perkecambahan biji yang mengandung protein tinggi sebagai cadangan makanan. Protein akan diubah menjadi asam-asam amino yang kemudian asam amino diubah menjadi senyawa antara respirasi karbohidrat.Dengan demikian, asam amino direspirasi oleh jalur yang digunakan oleh respirasi glukosa.
3.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan pembahasan pada bab II adalah sebagai berikut:
1.    Respirasi adalah reaksi oksidasi senyawa organik untuk menghasilkan energi. Energi ini digunakan untuk aktivitas sel dan kehidupan tumbuhan seperti sintesis (anabolisme), gerak, pertumbuhan, perkembangan. Energi kimia yang dihasilkan dari proses respirasi adealah energi kimia dalam bentuk ATP atu senyawa berenergi tinggi lainnya (NADH dan FADH). Proses respirasi selalu berlangsung sepanjang waktu selama tumbuhan hidup.
2.    Berdasarkan kebutuhannya terhadap  oksigen, respirasi pada tumbuhan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: respirasi aerob dan anaerob.

3.    Mekanisme respirasi aerob meliputi proses glikolisis, dekarboksilasi oksidatif piruvat, siklus krebs, sistem transpor elektron dan fosforilasi oksidatif, serta jalur pentosa fosfat.
v    Glikolisis
Proses yang berlangsung di luar mitokondria dan secara anaerob. Dalam proses ini terjadi pengubahan 1 molekul glukosa (6 C) menjadi 2 asam piruvat (3C). Dalam proses glikolisis dihasilkan 2 asam piruvat, 2 ATP,    dan 2 NADH.

v    Dekarboksilasi Oksidatif
Dekarboksilasi oksidatif merupakan reaksi antara yaitu antara glikolisis dengan siklus krebs. Dalam proses ini terjadi perubahan dari 2 asam piru-vat (3 C) menjadi 2 asetil Ko Enzim A (2 C). Hasil dari proses ini adalah 2 asetil Ko Enzim A, dan 2 NADH.

v    Siklus Krebs atau Asam Sitrat
Siklus Krebs terjadi di mitokondira. Dalam proses ini terjadi perubaha dari 2 asetil ko enzim A menjadi 2 CO2.Proses ini berlangsung secara aerob.

v    Hasil dari proses ini adalah 2 CO2, 2 FADH, dan 6 NADH.


Sehingga
Proses Glikolisis ------------------ 2ATP, 2NADH ---------------------- 8 ATP
Proses Dekarboksilasi Oksidatif ---- 2NADH ------------------------ 6 ATP
Proses Siklus Krebs ---------------- 2FADH, 6NADH, 2ATP ------ 22 ATP
Hasil --------------------------------------------------------------------------------- 38 ATP

4. Respirasi anaerob adalah respirasi yang tidak memerlukan oksigen ( O 2),          respirasi anaerob ini terjadi pada sitoplasma, pada respirasi ini terjadi penguraian senyawa organik. Respirasi anaerob menghasilkan energi yang lebih kecil    yaitu 2 ATP. Proses respirasi anaerob ini adalah : Fermentasi.

SISTEM PENCERNAAN MAKANAN

SISTEM PENCERNAAN MAKANAN

Makanan

·    Makanan adalah bahan-bahan yang diperlukan tubuh supaya tetap hidup
·    Makanan itu akan dimasukkan ke dalam tubuh melalui sistem pencernaan makanan
·    Sistem penvernaan makanan itu berupa Organ organ yang berbentuk saluran (Tractus digestivus) dan Organ yang berupa kelenjar yang tidak dilalui makanan makanan sehingga bisa dicerna dan kemudian bisa diserap oleh sel agar tetap sehat .
Makanan yang diperlukan oleh tubuh harus memenuhi syarat-syarat kesehatan, meliputi :
·    makanan harus hygiensis, artinya tidak mengandung kuman penyakit dan zat racun
·    makanan harus bergizi, yaitu cukup mengandung karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin dan air
·    makanan harus mudah dicerna oleh alat pencernaan
Fungsi makanan bagi tubuh manusia :
·    untuk menghasilkan energi
·    untuk mengganti sel-sel tubuh yang rusak
·    untuk pertumbuhan
·    sebagai zat pelindung dalam tubuh, antar lain dengan menjaga keseimbangan cairan tubuh
Zat yang diperlukan oleh tubuh :

1. Air
·    Air dalam tubuh diperlukan dalam jumlah yang besar karena berfungsi untuk melarutkan zat makanan,
·    Air juga untuk mengangkut zat makanan dari jaringan ke jaringan yang lain
·    untuk mengangkut zat sampah dari jaringan ke alat ekskresi serta
·    untuk menjaga stabilitas suhu tubuh.
·    Air diperoleh dengan langsung melalui minum dan secara tidak langsung dari buah-buahan atau makanan lain.
2. Protein
·    Merupakan senyawa organik yang tersusun atas C, H, O, N, dan kadangkala S, P.
·    Komponen dasar protein adalah senyawa organik sederhana disebut asam amino
Prtein yang tersusun atas asam amino itu meliputi :
1.    Asam amino Essensiik
2.    Asam amino Non Essensiil

Asam amino Essensiil

Asam amino esensial (utama) : asam amino yang harus ada dan didapatkan dari luar tubuh manusia karena tubuh tidak mampu mensintesisnya,
·    Asam amino esensial ini meliputi 10 macam, yaitu :
·    lisin
·    isoleusin
·    triptofan
·    treonin
·    histidin
·    metionin
·    fenil alanin
·    valin
·    leusin
·    arginin
2. asam amino nonesensial : asam amino yang dapat disintesis oleh tubuh sendiri
·    Asam amino non esensial ini meliputi :
·    alanin
·    sistein
·    glisin
·    prolin
·    tirosin
·    Asam glutamat
Sumber protein :
1.    hewani :
·    udang kering (62,4%)
·    ikan asin kering (42%)
·    sarang burung (37,5%)
·    teri kering (33,4%)
·    keju (22,5%)
·    udang segar (21%)
·    bandeng (20%)
·    hati sapi (19,7%)
·    daging sapi (18,3%)
·    daging kerbau (18,7%)
·    daging ayam (18,2%)
·    daging kambing (16,6%


2. nabati :
·    kedelai (34,9%)
·    kwaci (30,6%)
·    kacang tanah (25,3%)
·    biji kara benguk (24%)
·    kacang tolo (22,9%)
·    kacang hijau (22,2%)
·    biji jambu mete (21,2%)
·    tempe kedelai murni (18,3%)
Fungsi protein bagi tubuh manusia, yaitu :
·    membangun sel-sel yang rusak
·    membentuk zat pengatur seperti enzim dan hormon
·    membentuk zat kebal atau antibodi
·    bahan membentuk senyawa asam amino lainnya
·    sumber energi, 1 gr mengahsilkan 4,1 kalori
·    menjaga keseimbagan asam basa dalam darah
Bila tubuh seseorang mengalami kekurangan protein yang berkepanjangan maka akan dapat menyebabkan seseorang menderita penyakit busung lapar (hongeroedem) dan kwashiorkor.

3. Lemak
·    Merupakan senyawa organik yang tersusun atas C, H, O. Komponennya adalah asam lemak dan gliserol.
·    Asam lemak dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :
1.    Asam lemak jenuh : berujud padat dan bersama gliserin dapat disintesis sendiri oleh tubuh.
2.    asam lemak tidak jenuh : berujud cair dan tidak dapat disintesis sendiri oleh tubuh, jadi harus didatangkan dari luar.

Sumber lemak :
1.    hewani : minyak ikan (100%), kuning telur ayam (31, 9%), daging itik (28,6%), belut (27%), daging ayam (25%, keju.
2.    nabati : minyak kelapa sawit (100%), minyak kacang tanah (100%), minyak kenari (66%), kemiri (63%), wijen (51,1%), biji jambu mete (49,6%), biji kacang tanah (42,8%), kwaci (42,1%), serbuk coklat (23,8%), kedelai (18,1%), advokat.







Fungsi Lemak :
1.    penghasil energi atau kalor, 1 gr menghasilkan 9,3 kalori
2.    pelarut vitamin A, D, E dan K
3.    pelindung alat-alat tubuh
4.    pelindung tubuh dari suhu rendah
5.    membangun bagian sel tertentu
4. Karbohidrat (zat tepung)
·    Merupakan senyawa organik yang tersusun atas C, H, O.
Berdasar gugus gula penyusunnya karbohidrat dibedakan :
1.    karbohidrat sederhana
2.    karbohidrat sederhanakomplex
karbohidrat sederhana : karbohidrat yang tersusun atas sedikit gugusan gula, yaitu :
1.    Monosakarida : karbohidarat yang tersusun satu gugusan gula. Contoh : glukosa, galaktosa, fruktosa.
2.    Disakarida : karbohidrat yang tersusun atas dua gugusan gula. Contoh : maltosa (gula emping), laktosa (gula susu), sukrosa (gula tebu).
3.    Polisakarida : karbohidrat yang tersusun atar lebih dari 10 gugusan gula. Contoh : amilum (pati), selulosa dan gliokogen (gula otot)
·    Karbohidrat dan lemak merupakan sumber energi utama bagi tubuh kita.
·    Penggunaan energi sehari-hari untuk keperluan metabolisme rutin bagi tubuh yang berat 50 kg adalah 1500 kalori.
·    Karbohidrat dalam tubuh disimpan dalam hati (108 gr), otot (245 gr) (keduanya berbentuk glikogen), darah (17 gr) berupa glukosa atau gula darah.
·    Sumber karbohidrat adalah tumbuh-tumbuhan.
5. Vitamin
·    Merupakan senyawa organik sebagai pelengkap makanan yang diperlukan untuk kehidupan, kesehatan dan pertumbuhan dan tidak berfungsi dalam penciptaan energi.
·    Vitamin tidak dapat disintesis oleh tubuh sehingga harus didatangkan dari luar tubuh.
·    Kekurangan vitamin akan mengalami penyakit defisiensi (avitaminosis), sedang kelebihan vitamin menyebabkan penyakit hipervitaminosis.
Vitamin dikelompokkan :
1.    Vitamin larut dalam air, meliputi vitamin B dan C
2.    Vitamin larut dalam Lemak meliputi vitamin A, D, E dan K

Vitamin B1 (thiamin/ aneurin/ anti beri-beri)

Fungsi :
1.    untuk metabolisme karbohidrat
2.    mempengaruhi penyerapan zat lemak dalam usus
3.    mempengaruhi keseimbangan air dalam tubuh
Sumber
1.    hewani : jantung, otak, susu, kuning telur
2.    nabati : beras merah, katul, gandum, wortel, kacang hijau
Akibat kekurangan :
1.    Menyebabkan bei-beri, gangguan metabolisme karbohidrat pada susunan syaraf pusat dan jantung, menyebabkan transpor cairan tubuh terhambat.
Vitamin B2 (riboflavin/ laktoflavin)

Fungsi :
1.    memindahkan rangsangan sinar ke syaraf mata
2.    sebagai enzim dalam proses oksidasi di dalam sel-sel
3.    memelihara jaringan terutama kulit di sekitar mulut
Sumber :
·    Ragi, hati, ginjal, jantung dan otak
Akibat kekurangan :
1.    Pengelihatan mata menjadi kabur
2.    Cheilosis (luka di sudut mulut/ bibir yang kemerahan mengelupas)
3.    Proses pertumbuhan terganggu.
Vitamin B7 atau asam nikotinat (niasin/ asam nikotin)

Fungsi :
1.    untuk proses pertumbuhan dan pembelahan
2.    untuk proses perombakan karbohidrat
3.    mencegah penyakit palagra
Sumber :
·    Susu, hati, kol, ragi, kedelai, bayam

Akibat kekurangan :
·    Palagra, yaitu penyakit dengan gejala dermatitis, diare dan dimensia (pelupa dan letih)
Vitamin B6 (piridoksin/ adermin)

Fungsi :
1.    untuk proses pertumbuhan
2.    untuk pembentukan sel-sel darah
3.    merangsang kerja syaraf
Sumber :
·    Daging, hati, ikan , sayuran
Akibat kekurangan :
·    Menimbulkan gejala palagra, anemia, menim-bulkan obstipasi (sukar buang air besar) Vitamin B3 atau B5 (asam pantotenat)

Sumber :
·    Hati, daging, ragi dan beras
Akibat kekurangan :
·    Menyebabkan gejala dermatitis.
Vitamin B4 atau Vit. H (biotin)
·    Kekurangan biotin menimbulkan gejala seperti palagra dan gangguan kulit (dermatitis).
Sumber :
·    Ragi, kentang, hati, ginjal sayuran, buah-buahan
Asam paraaminobenzoat (PABA)

Fungsi :
·    Untuk mencegah timbulnya uban rambut dan rontoknya rambut.
Sumber :
·    Ragi, hati

Kolin
·    Kekurangan kolin mengakibatkan penimbunan lemak disekitar hati dan gangguan kulit/ ginjal.
Sumber :
·    Hati, beras
Vitamin B11 (asam folin atau asam folium)

Fungsi :
·    Untuk pertumbuhan sel darah merah dan anti pernisiosa
Kekeurangan
·    dapat menimbulkan anemia pernisiosa (gejala anemia akut)
Vitamin . B12 (sianokobalamin)
·    Dikenal sebagai vitamin anti pernisiosa yang sangat efektif
Sember :
·    hati
Vitamin C (asam askorbinat/askorbat)

Fungsi :
1.    mengaktifkan perombakan protein dan lemak
2.    penting dalam oksidasi dan dehidrasi dalam sel
3.    penting dalam pembentukan trombosit
4.    penting dalam pembentukan serat kolagen yang merupakan komponen jaringan ikat
5.    mempengaruhi kerja anak ginjal
Akibat kekurangan :
·    Menimbulkan pendarahan dalam, yaitu perdarahan dalam sumsum tulang dan kerusakan tulang. Gejala ini ditandai dengan adanya perdarahan gusi.
Kelebihan :
·    Vitamin ini akan dikeluarkan dari tubuh melelui urine
Sumber :
·    Buah-buahan segar, sayuran, hati dan ginjal
Vitamin larut dalam lemak (minyak), meliputi vitamin A, D, E, K

Vitamin A (aseroftol/ retinol)

Fungsi :
1.    untuk pertumbuhan sel epitel
2.    untuk proses oksidasi dalam tubuh
3.    mengatur kepekaan rangsangan sinar pada syaraf mata
Akibat kekurangan :
1.    rabun senja (hemeralopi)
2.    kerusakan epitil kulit
3.    kerusakan kornea mata
4.    perdarahan selaput lendir usus, ginjal dan paru-paru
Sumber :
·    Sayuran hijau dan buah berwarna kuning kemerah-an, susu, telur dan minyak ikan
Vitamin D (antirachitis/ kalsiferol)

Fungsi :
1.    mengatur kadar kapur dan fospor dalam darah dengan kelenjar gondok (parathormon)
2.    mempengaruhi proses pembentukan tulang (osifikasi)
3.    memperbesar penyerapan kapur dan fospor dari usus
4.    mempengaruhi kerja kelenjar hormon
Akibat kekurangan :
1.    penyakit rakitis dan gangguan tulang
2.    gangguan pada metabolisme zat kapur dan fospor
Sumber :
·    Minyak ikan, mentega, susu, kuning telur, ragi. Provitamin D yang ada di bawah kulit diubah menjadi vitamin D dengan bantuan bantuan sinar ultraviolet
Vitamin E (tokoferol)

Fungsi :
1.    mencegah perdarahan pada wanita hamil dan mencegah keguguran
2.    sebagai kofaktor dari sitokrom
3.    menambah kesuburan (fertilitas)
Sumber :
·    Kecambah (taoge), susu, lemak, keuning telur, daging, hati dan ginjal
Vitamin K (menadion/ anti hemoragia/ anti perdarahan)

Fungsi :
·    membentuk protombin, yang berperan dalam pembekuan darah
Sumber :
·    Vitamin K dibuat dalam usus tebal (colon) oleh bacteri pengurai, yaitu Escerchia coli. Vitamin ini hanya dapat diserap bila bersama-sama dengan empedu.
·    Vitamin ini merupakan kelompok vitamin yang terdiri dari vitamin K1 (a filokinon), vitamin K2 (b filokinon) dan vitamin K3 (menadion)
Garam mineral
·    Seperti vitamin garam mineral dipelukan tubuh dalam jumlah sedikit dan juga tidak mengalami proses pencernaan, meliputi :
Zat kapur (Ca)

Fungsi :
·    sebagai pembentuk matriks tulang yang pembentukan-nya dipengaruhi oleh vitamin D
·    mempengaruhi penerimaan rangasangan pada otot dan syaraf
·    membantu proses penggumpalan darah, yaitu dalam pembentukan trombin dari protombin.
Akibat kekurangan :
·    kejang
·    pertumbuhan tulang tidak sempurna
·    bila terjadi luka, darah sukar membeku

Sumber
·    Susu, mentega, telur, buah, kacang-kacangan
- Phospor (P)
Fungsi :
* sebagai bahan pembentuk matriks tulang
* sebagai bahan membentuk fosfatid, yaitu yang penting dalam plasma darah
* mempengaruhi proses perombakan dan pembentukan zat
* membantu proses kontraksi otot
* membantu proses pembelahan inti sel
Sumber : Ikan, kacang-kacangan dan jagung
- Zat besi (Fe)

Fungsi :
* sebagai komponen pembentuk Hb
* sebagai komponen dalam sitokrom, yaitu zat penting dalam pernafasan
* mencegah anemia
Sumber :
Hewani : hati, ginjal, susu, kuning telur, daging
Nabati : bayam, daun singkong, kacang-kacangan, kangkung
- Flour (F)
Fungsi :
* menguatkan gigi
Sumber : Susu, otak, kuning telur
- Natrium (Na) dan Klor
Fungsi :
Kedua zat ini diperlukan dalam pembentukan asam klorida dalam lambung.
Setiap hari kitra memerlukan natrium dan klor sekitar 15 – 20 gr.
- Kalium (K)
Fungsi :
* untuk kontraksi otot
* berperan dalam transmisi impuls syaraf
- Yodium (I)
Fungsi :
* pembentukan hormon tiroksin pada kelenjar gondok (tiroid)
Kekurangan :
* menimbulkan pembengkakan pada kelenjar gondok

Enzim pencernaan
Enzim adalah bikatalisator, artinya senyawa organik yang dapat mempercepat reaksi kimia tetapi zat itu sendiri tidak ikut bereaksi. Proses reaksi kimia di dalam tubuh sangat dipengaruhi oleh zat tersebut. Hal ini terbukti bahwa banyak reaksi kimia yang dapat berlangsung di dalam tubuh, tetapi bila direaksikan di luar tubuh tidak dapat bereaksi.
Enzim adalah zat yang tersusun atas protein.
Sifat enzim :
- kerjanya dipengaruhi oleh suhu dan pH
- sebagai biokatalisator
- hanya dapat bekerja pada suatu zat tertentu
- bekerja secara khas dan diberi nama menurut senyawa atau zat yang mempengaruhinya
- hanya sedikit diperlukan
- enzim merupakan suatu koloid
Zat makanan yang mengganggu kesehatan :
1. Zat pewarna
Merupakan bahan tambahan yang digunakan untuk mewarnai makanan. Contoh karamel (coklat), erythrosim (merah), brilliant blue (biru), tartrazine (kuning), fast green (hijau).
Zat warna tekstil dan kulit yang digunakan untuk mewarnai makanan akan berbahaya bagi kesehatan, karena mengandung residu logam berat.
Penggunaan zat warna racun secara berlebihan akan terakumulasi dalam tubuh dan dapat merusak jaringan atau organ tubuh seperti hati dan ginjal.
2. Zat pengawet
Merupakan bahan kimia yang dapat mencegah serangan seperti bacteri dan kapang, sehingga makanan menjadi tahan lama. Contoh asam sorbat, asam propinat, asam benzoat, asam asetat, sulfit (sulfir fioksida).
Natrium nitrit sebagai pengawet dan mempertahankan warna daging/ ikan akan membahayakan, karena nitrit berkaitan dengan asam amino atau amida dapat membentuk nitrosamin yang bersifat toksit (racun). Nitrosiamin dapat menimbulkan kanker pada ternak.
3. Zat pemanis buatan
Merupakan zat yang dapat memberikan rasa manis. Kalori yang dihasilkan lebih rendah dari gula. Contoh siklamat dan sakarin.
Penggunaan 5% sakarin dalam makanan tikus merangsang tumor di kandung kemih. Hasil metabolisme siklamat yaitu sikloheksamina merupakan senyawa karsinogenik. Pembuangan sikloheksamin melalui urine merangsang tumor kandung kemih tikus.
4. Zat penyedap rasa
Merupakan bahan tambahan yang dapat menyedapkan rasa. Contoh mono sodium glutamat (MSG) atau bumbu masak. Penggunaan ini harus secukupnya.
5. Zat lain
- kolesterol, pada makanan yang berasal dari hewan, dapat menimbulkan penyempitan pembuluh darah dan menyebabkan penyakit jantung koroner
- muskarin, pada cendawan
- HCN, pada singkong
- pakirizida, pada biji bengkoang dapat menyebabkan kelumpuha organ pernafasan
- asam jengkolat, pada jengkol dapat menyebabkan kristal asam jengkolat yang menyumbat saluran urine
Kebutuhan energi untuk aktivitas tubuh
Energi yang digunakan aktivitas tubuh berasal dari pembakaran (oksidasi) zat-zat makanan. Untuk mengukur jumlah energi yang dikeluarkan oleh tubuh digunakan alat kalorimeter. Selain itu pengukuran dapat dilakukan dengan mengukur perbandingan banyaknya CO2 yang dihasilkan dan O2 yang diperlukan pada proses pembuatan energi.
Jumlah kalori yang diperlukan oleh otot untuk melakukan berbagai aktivitas sebanding dengan aktivitas otot tersebut. Contoh : duduk istirahat menggunakan 15 kalori/jam, bediri menggunakan 20 kalori/ jam, berjalan menggunakan 150 – 240 kalori/ jam, dan bersepeda menggunakan 180 – 600 kalori/ jam.
Metabolisme basal
Merupakan energi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam keadaan istirahat total dalam suhu lingkungan yang normal. Energi tersebut diperlukan untuk memelihara proses hidup seperti aktivitas jantung, pernafasan, mempertahankan suhu tubuh. Metabolisme basal dipengaruhi oleh luas permukaan tubuh, umur dan jenis kelamin.
B. Alat Pencernaan Makanan
Adalah bagian dari tubuh yang berperan dalam mencernakan makanan yang kita makan, yaitu mengubahnya dari bentuk kasar menjadi bentuk halus sehingga dapat diserap oleh usus. Proses pencernaan makanan dilakukan oleh alat pencernaan dengan bantuan enzim yang dihasilkan oleh kelenjar pencernaan.
Alat pencernaan atau saluran pencernaan, meliputi :
1. Mulut
Pada rongga mulut (cavum oris) terjadi pencernaan baik secara mekanis maupun chemis. Alat-alat yang terdapat di mulur meliputi gigi, lidah dan kelenjar air liur (ludah).
Gigi
Mulai umur 6 bulan gigi mulai tumbuh pertama. 6 sampai 14 tahun gigi itu berangsur-angsur tanggal dan diganti permanen.
Rumus gigi sulung (dens desiden) :

P2    C1    I2    I2    C1    P2      
P2    C1    I2    I2    C1    P2   
Rumus gigi tetap (dens permanens) :

M3    P2    C1    I2    I2    C1    P2    M3      
M3    P2    C1    I2    I2    C1    P2    M3   
M : molare (geraham belakang)
P : prae molare (geraham depan)
C : caninus (gigi taring)
I : dens insisivus (gigi seri)
Gb.
Lapisan email
Tulang gigi
Puncal gigi sumsum gigi
Lapisan semen
Leher gigi
Gusi
Akar gigi
Syaraf saluran darah
Email merupakan bagian yang palingluar dan paling keras. Tulang gigi tersusun atas zat dentin. Di dalam tulang gigi terdapat sumsum gigi atau pulpa. Pada bagian ini terdapat serabut syaraf dan pembuluh darah. Semen yaitu bagian pelapis bagian dentin (tulang gigi) yang masuk ke rahang.
Lidah
Selain alat pengecap lidah berfungsi, untuk :
- membantu mengaduk makanan di dalam rongga mulut
- membantu membersihkan mulut
- membantu bersuara
- membantu mendorong makanan dalam proses penelanan
Kelenjar ludah (glandula salivales)
Pada rongga mulut bermuara 3 pasang saluran dari kelenjar ludah,
meliputi :
- glandula parotis, menghasilkan ludah yang berbentuk cair (serosa)
- glandula submaxilaris atau kelenjar ludah rahang atas
- glandula sublingualis atau kelenjar ludah bawah lidah
Fungsi air ludah :
- Untuk memudahkan penelanan dan pencernaan. Yang berbentuk lendir berperan dalam penelanan, sedang yang berbentuk cair berperan dalam melarutkan zat makanan.
- Sebagai pelindung selaput mulut dari panas, dingin, asam dan basa.
2. Tekak (faring)
Merupakan penghubungkan rongga mulut dengan kerongkongan. Di bagian ini terdapat persimpangan antara pangkal tenggorokan dan pangkal kerongkongan. Ketika makanan berada di tekak, pangkal tenggorokan tertutup, rongga hidung tertuitup oleh langit-langit lunak, pangkal kerongkongan terbuka terbuka lebar, sehingga makanan masuk ke dalam kerongkongan.
3. Kerongkongan (oesofagus)
Merupakan saluran penghubung antara mulut dengan lambung. Sepertiga bagian atasnya terdiri dari otot lurik, sedang duapertiga bagian bawahnya terdiri dari otot polos. Makanan pada saluran ini hanya memerlukan waktu 6 detik untuk sampai ke lambung sebab adanya gerak peristaltik (meremas) dinding oesofagus. Gerakan ini terjadi karena otot memanjang dan melingkar dinding oesofagus mengerut bergantian.
4. Lambung (ventrikulus)
Merupakan kantong besar yang terdapat di bawah sekat rongga badan, sedikit agak ke kiri. Lambung terdiri atas 3 daerah, yaitu :
- daerah kardiak : paling dekat dengan hati dan merupakan tempat masuk pertama kali makanan dari oesofsagus
- daerah fundus : bagian tengah yang membulat
- daerah pilorus : bagian bawah yang paling dekat dengan usus halus
Akibat dari kontraksi otot lambung makanan akan teraduk sehingga menyebabkan makanan berbentuk seperti bubur disebut chyme. Bagian dalam dari dinding lambung menghasilkan lendir atau musin, sedang bagian fundus menghasilkan getah lambung.
Dinding lambung dapat menghasilkan hormon gastrin dan mengandung kelenjar getah lambung. Hormon gastrin berguna untuk merangsang sekresi getah lambung. Kelenjar getah lambung dapat menghasilkan HCl, pepsinogen dan renin.
Fungsi HCl :
- menyebabkan lingkungan asam (pH 1 – 3) sehingga dapat membunuh kuman penyakit yang masuk bersama makanan
- mengaktifkan getah lambung yang mengandung pepsinogen, yang oleh HCl diaktifkan menjadi pepsin yang berfungsi memcah protein menjadi pepton
- membantu membuka menutup sfingter yang terdapat di antara pilorus dengan usus 12 jari (duodenum)
- merangsang kelenjar dinding sel usus untuk menghasilkan sekretin (hormon yang merangsang pengeluaran getah pankreas) dan kolesitokinin (hormon yang merangsang pengeluaran empedu)
Lambung juga menghasilkan enzim renin yang berfungsi untuk menggumpalkan kasein dalam susu.
5. Usus halus (intestinum tennue)
Merupakan bagian dari saluran pencernaan yang paling panjang. Terdiri dari tiga bagian,yaitu :
- duodenum (usus 12 jari) panjang 0,25 m
- jejunum (usus kosong) panjang 7 m
- ileum (usus penyerapan) panjang 1 m
Dalam intestinum tennue berlangsung pencernaan secara kimia, danterjadi penyerapan zat makanan terutama pada jejunum dan ileum.
Karbohidrat diserap dalam bentuk glukosa, protein dalam bentuk asam amino, lemak dalam bentuk asam lemak dan gliresol.
Getah usus halus bersifat basa, dan mengandung enzim :
- sakarase : memecah sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa
- maltase : memecah maltosa menjadi dua glukosa
- laktase : memecah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa
- erepsinogen yang belum aktif : diaktifkan oleh enterokinase menjadi erepsin yang memecah pepton menjadi asam amino
Pankreas :
Menghasilkan getah pankres yang mengandung NaHCO3 yang bersifat basa, dan mengandung enzim :
- lipase pankreas (steapsin) : memecah emulsi lemak menjadi asam lemak dan gliserin
- amilase pankreas (amilopsin) : memecah amilum menjadi maltosa
- tripsinogen : diaktifkan oleh entrokinase menjadi tripsin yang berfungsi memecah protein dan pepton menjadi dipeptida dan asam amino
Pankrean juga mengahasilkan hormon insulin.


6. Usus besar (intestinum crasum) yang terdiri dari usus tebal (colon)
Pada usus besar, sisa makanan dibusukan oleh bacteri pengurai Escherichia coli. Bacteri ini juga menghasilkan vitamin K yang penting dalam proses pembekuan darah.
7. Poros usus (regtum)
Pada usus besar feses didorong dengan gerakan peristaltik yang teratur ke posos usus (rektum) untuk keluar dari tubuh (defekasi).
Gangguan dan kelainan pada sistem pencernaan
- Diare : defekasi terlalu sering dengan feses yang banyak mengandung air.
- Sembelit (konstipasi) : defekasi berlangsung lambat karena usus besar mengabsorbsi air secara berlebihan sehingga feses menjadi kering dan keras.
- Tukak lambung (ulkkus/ maag) : luika pada dinding lambung yang umumnya disebabkan oleh infeksi kuman bacteri tertentu.
- Peritonitis : peradangan pada selaput perut (peritonium).
- Gastritis : peradangan dinding lambung yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme tertentu atau kelebihan asam dalam lambung.
- Apendisitis (radang usus buntu) : usus buntu (apendiks) meradang dan membengkak karena infeksi.
- Keracunan makanan : disebabkan oleh bacteri atau mikroorganisme tertentu yang terdapat pada makanan, misal :
Clostridium botulinum, tumbuh pada makanan kaleng yang tidak mengandung oksigen.
Staphylococcus, terdapat pada tubuh manusia seperti pada bisul dan luka kecil, namun dapat tumbuh pada makanan tertentu.
Pseudomonas cocovenenans, menghasilkan racun asam bongkrek yang diproduksi saat pembuatan tempe bongkrek, dapat menyebabkan kematian.
- Salah cerna, gangguan pencernaan yang disebabkan oleh makanan yang merangsang lambung, seperti alkohol dan cabe.
- Hemoroid atau ambeien, pembengkakan vena di anus
- Parotis atau gondong, infeksi pada kelenjar parotis
- Xerostomia, produksi saliva sangat sedikit

Organ    Cairan pencerna    Reaksi     Enzim     Kerja kimiawi oleh enzim      
Mulut
Lambung
Duodenum
Pankreas
Usus halus    Saliva/
ludah
Getah lambung
Empedu
Getah pankreas
Sakus en-terikus    Alkali
Asam
Alkali
Alkali
Alkali     Ptialin
Renin
Pepsin
Lipase gastrik
-
Tripsin
Amilase
Lipase
Enterokinase
Erepsin
Maltase, laktasse, sakarase    Mengubah zat tepung menjadi zat gula yang dapt larut dalam air (maltosa).
Mengubah kasino-gen menjadi kase-in.
Mengubah protein menjadi pepton.
Memulai hidrolisis lemak
Membantu kerja enzim pankreas, mengemulsikan lipit.
Menyederhanakan protein & pepton.
Mengubah semua zat gula & tepung menjadi maltosa.
Menghidrolisis le-mak menjadi asam lemak dan gliserin.
Aktivator tripsi-nogen & erepsino-gen.
Menyederhanakan protein menjadi asam amino.
Menyederhanakan karbohidrat men-jadi glukosa, ga-laktosa & fruktosa.   
C. Sistem Pencernaan Hewan
Pencernaan pada hewan ruminansia (memamah biak) hampir sama dengan manusia yaitu terdiri dari mulut, faring, oesofagus, ventriculus dan usus. Perbedaannya terletak pada susunan dan fungsi gigi serta lambung.
Gigi
Susunan gigi (sapi) :

M3    P3    C0    I0    I0    C0    P3    M3      
M3    P3    C0    I4    I4    C0    P3    M3   
M : molare (geraham belakang)
P : prae molare (geraham depan)
C : caninus (gigi taring)
I : dens insisivus (gigi seri)
Geraham depan dan geraham belakang berbentuk leber dan datar. Gigi seri berfungsi khusus untuk menjepit makanan berupa tubmbuhan.
Lambung
Pada hewan memamah biak lambung terdiri dari 4 bagian :
- rumen (perut besar) : tempat penccernaan protein dan polisakarida, juga tempat fermentasi selulosa oleh bacteri yang menghasilkan selulose
- retikulum (perut jala) : tempat pembentukan bolus (gumpalan-gumpalan makanan yang masih kasar)
- omasum (perut kitab) : tempat bolus bercampur enzim
- abomasum (perut masam) : tempat pencernaan oleh enzim
Jalannya makanan :
- Makanan dikunyah di mulut masuk ke oesofagus selanjutnya ke rumen yang berfungsi sebagai tempat sementara bagi makanan yang tertelan.
- Di rumen terjadi pencernaan protein dan polisakarida serta fermentasi selulosa oleh enzim selulosa yang dihasilkan bacteri.
- Dari rumen makanan masuk ke retikulum dan makanan dibentuk menjadi bolus.
- Bolus dikeluarkan kembali ke mulut untuk dikunyah kembali.
- Dari mulut makanan ditelan masuk ke omasum dan bercampur dengan enzim.
- Selanjutnya bolus menuju ke abomasum dan terjadi pencernaan secara kimia oleh enzim.
- Selanjutnya makanan menuju ke usus untuk diserap sari-sarinya dan sisa-sisa makanan berupa feses dikeluarkan melalui anus.
Selulose yang dihasilkan bacteri dan protozoa akan merombak selulosa menjadi asam lemak. Tapi bacteri tidak dapat hidup pada abomasum kaena pH-nya sangat rendah, maka bacteri dicerna untuk mendapatkan protein. Enzim selulose juga berfungsi menghasilkan gas CH4 yang dapadt digunakan sebagai sumber energi alternatif. Kuda, kelinci dan marmut susunan/ struktur lambungnya berbeda dengan sapi. Proses fermentasi atau pembusukan terjadi di sekum yang banyak mengandung bacteri. Fermentasi yang dilakukan kuda, kelinci dan marmut tidak seefektif pada sapi sehingga kotorannya tampak kasar.
Pada kelinci dan marmut kotoran yang telah dikeluarkan dari tubuh sering dimakan kembali. Usus sapi sangat panjang, usus halusnya dapat mencapai 40 meter. Hal itu dipengaruhi oleh makanannya yang sebagaian besar terdiri dari serat.







M0DEL- MODEL EVALUASI KURIKULUM


2.1. Pengertian Evaluasi Kurikulum
Evaluasi kurikulum memang sangat penting untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum itusendiri semakin berkembang seiring berjalannya waktu dan praktik pendidikan yang harus     disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju pula.Karena kurikulum itu sendiri bersifat dinamis maka dalam praktik dan perkembangannya membutuhkan evaluasi. Pengertian evaluasi kurikulum itu berbeda beda sesuai dengan pengertian kurikulum yang berbeda-beda pula. Berikut adalah pengertian evaluasi terlebih dahulu  menurut para ahli:
1.Stephen Wiseman dan Dauglas Pidgeson dalam bukunya yang berjudul Curriculum Evaluation, evaluasi yaitu perbuatan pertimbangan berdasarkan seperangkat kriteria yang disepakati dan dapat dipertanggung jawabkan.
2. Dalam buku The School Curriculum, evaluasi dinyatakan sebagai suatu prosespengumpulan data secara sistematis, yang bertujuan untuk membantu pendidik untuk memahami dan menilai suatu kurikulum, serta memperbaiki metode pendidikan. Evaluasi merupakan suatu kegiatan untuk mengetahui dan memutuskan apakah program yang telah ditentukan sesuai         dengan tujuan semula.
3.    Dalam buku Curriculum Planning and Development, evaluasi adalah proses untuk menilai kinerja pelaksanaan suatu kurikulum. yang di dalamnya ada tiga makna yaitu:
a.    Evaluasi tidak akan terjadi kecuali telah mengetahui tujuan yang akan dicapai.
b.    Untuk mencapai tujuan tersebut harus diperiksa hal-hal yang telah dan sedang   dilakukan.
c.    Evaluasi harus mengambil kesimpulan berdasarkan kriteria tertentu.
4.    Chelimsky (1989) mendefinisikan evaluasi adalah suatu metode penelitian yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi dan efektifitas suatu program.
5.     Joint Commite (1981) menurutnya evaluasi ialah penelitian yang sistematik atau yang teratur tentang manfaat atau guna beberapa objek.
6.    Purwanto dan Atwi Suparman (1999) evaluasi yaitu proses penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan data yang valid dan reliable untuk membuat keputusan pada suatu program.

Berikut adalah pengertian Evaluasi Kurikulum menurut para ahli:
1.    Tyler (1949) evaluasi kurikulum adalah upaya untuk menentukan tingkat perubahan yang terjadi pada hasil belajar (behavior).
2.    Orint (1993) evaluasi kurikulum yaitu memberikan pertimbangan berdasarkan kriteria yang disepakati dan data yang diperoleh di lapangan.
3. Cronbach (1980) evaluasi kurikulum yaitu proses pemeriksaan sitematis terhadap peristiwa  yang terjadi pada waktu suatu kurikulum dilaksanakan dan akibat dari pelaksanaan            kurikulum tersebut.
4.  Meyer (1989) evaluasi kurikulum sebagai suatu usaha untuk memahami apa yang terjadi      dalam pelaksanaan dan dampak dari kurikulum.
5.    Longstreet and Shane (1993) evaluasi kurikulum adalah pemberian pertimbangan untuk mencapai kesuksesan.
6.    Mawid Marsan (2004) evaluasi kurikulum yaitu sebagai usaha sistematis mengumpulkan informasi mengenai suatu kurikulum untuk digunakan sebagai pertimbangan mengenai nilai dan arti dari kurikulum dalam suatu konteks tertentu.
7.     Pengertian evaluasi kurikulum menurut http://elearning.unesa.ac.id yaitu penelitian yang sistematik tentang manfaat, kesesuaian efektifitas dan efisiensi dari kurikulum yang              diterapkan atau evaluasi kurikulum adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan    data yang valid dan reliabel untuk membuat keputusan tentang kurikulum yang sedang berjalan atau yang telah dijalankan.

2.2. Tujuan Evaluasi Kurikulum
 Evaluasi kurikulum untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan, indikator kinerja yang akan dievaluasi yaitu efektivitas program. Dalam arti luas evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari beberapa aspek yaitu efektivitas, relevansi, efisiensi, dan kelayakan (feasibility) program. Evaluasi dalam pengembangan kurikulum dimaksudkan untuk keperluan:
a.    Perbaikan program
Evaluasi bersifat konstruktif karena informasi hasil evaluasi dijadikan input bagi             perbaikan pengembangan program kurikulum. Jadi evaluasi dipandang sebagai tolak ukur    hasil pengembangan sistem.
b.     Pertanggung jawaban kepada berbagai pihak
Pada fase pengembangan kurikulum diperlukan pertanggung jawaban sosial, ekonomi, dan moral berupa kekuatan dan kelemahan kurikulum serta upaya untuk mengatasinya dari berbagai pihak yang mensponsori kegiatan pengembangan kurikulum dan yang menjadi konsumen dari kurikulum yang telah dikembangkan.
c. Penentuan tindak lanjut hasil pengembangan
    Tindak lanjut hasil pengembangan kurikulum dapat berbentuk jawaban. Untuk menghasilkan informasi yang diperlukan dalammenjawab pertanyaan diperlukan adanya kegiatan evaluasi.

2.3. Model – Model Evaluasi Kurikulum
Model evaluasi kurikulum sebagai fenomena sejarah merupakan suatu elemen dalam proses sosial yang dihubungkan dengan perkembangan pendidikan. Model - model evaluasi kurikulum terdiri atas tujuh yaitu :
1. Evaluasi Model Penelitian
    Menurut Sukmadinata (2008) model evaluasi kurikulum yang menggunakan model penelitian didasarkan atas metode tes psikologis dan eksperimen lapangan. Tes psikologis atau tes psikometrik pada umumnya mempunyai dua bentuk, yaitu tes intelegensi yang ditunjukan untuk mengukur kemampuan bawaan, serta tes hasil belajar yang mengukur perilaku skolastik. Eksperimen lapangan dalam pendidikan, dimulai pada tahun 1930 dengan menggunakan metode yang biasa digunakan dalam penelitian botani pertanian. Para ahli botani pertanian mengadakan percobaan untuk ditanam pada petak-petak tanah yang memiliki kesuburan dan lain-lain yang sama. Dari percobaan tersebut dapat diketahui benih mana yang paling produktif. Percobaan serupa dapat juga digunakan untuk mengetahui pengaruh tanah, pupuk dan sebagainya terhadap produktivitas suatu macam benih.
    Menurut Sukmadinata (2008) model eksperimen dalam botani pertanian dapat digunakan dalam pendidikan, anak dapat disamakan dengan benih, sedang kurikulum serta berbagai fasilitas serta sistem sekolah dapat disamakan dengan tanah dan pemeliharaannya. Untuk mengetahui tingkat kesuburan benih (anak) serta hasil yang dicapai pada akhir program percobaan dapat digunakan tes (pretest dan post test).
    Comparative approach dalam evaluasi. Salah satu pendekatan dalam evaluasi yang menggunakan eksperimen lapangan adalah mengadakan pembandingan antara dua macam kelompok anak, umpamanya yang menggunakan dua metode belajar yang berbeda. Kelompok pertama belajar membaca dengan menggunakan metode global dan kelompok lain menggunakan metode unsur. Rancangan penelitian lapangan ini membutuhkan persiapan yang sangat teliti dan rinci, seperti sampel, variabel yang terkontrol, hipotesis, treatment, tes hasil belajar dan sebagainya, perlu dirumuskan secara tepat dan rinci.
Menurut Sukmadinata (2008) kesulitan yang dihadapi dalam model evaluasi eksperimen penelitian adalah :
1.    Kesulitan administratif : sedikit sekali sekolah yang bersedia dijadikan sekolah eksperimen.
2.    Maslah teknis dan logis : kesulitan menciptakan kondisi kelas yang sama untuk kelompok–kelompok yang diuji.
3.    Sukar untuk mencampurkan guru-guru untuk mengajar pada kelompok eksperimen dengan kelompok control, pengaruh guru-guru tersebut sukar dikontrol.
4.    Ada keterbatasan mengenai manipulasi eksperimen yang dapat dilakukan.

2. Evaluasi Model Objektif
Evaluasi model objektif (model tujuan) berasal dari Amerika Serikat. Perbedaan model objektif dengan model komparatif ada dalam dua hal :
a. Dalam model objektif evaluasi merupakan bagian yang sangat penting dari proses pengem     bangan kurikulum. b. Kurikulum tidak dibandingkan dengan kurikulum lain tetapi diukur dengan seperangkat objektif (tujuan khusus).
Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh tim pengembang model objektif, yaitu:
1. Ada kesepakatan tentang tujuan-tujuan kurikulum.
2. Merumuskan tujuan-tujuan tersebut dalam perbuatan siswa.
3. Menyusun materi kurikulum yang sesuai dengan tujuan tersebut.
4. Mengukur kesesuaian antara perilaku siswa dengan hasil yang diinginkan.
     Pendekatan ini yang digunakan oleh Ralph Tylor (1930) dalam menyusun tes dengan titik tolak pada perumusan tujuan tes, sebagai asal mula pendekatan sistem (system approach)Pada tahun 1950-an Benyamin S. Bloom dengan kawan-kawannya menyusun klasifikasi  sistem tujuan yang meliputi daerah-daerah belajar (cognitif domain).
Mereka membagi proses mental yang berhubungan dengan belajar tersebut dalam enam kategori, yaitu :
1.    Knowledge (pengetahuan) adalah kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi,dan prinsip dasar.
2.    Comprehension (pemahaman) memahami hubungan yang sederhana di antara fakta-fakta atau konsep. Pembahasan pemahaman ini adalah penerjemahan, penafsiran, dan eksprorasi.
3.    Aplication (penggunaan) memiliki kemampuan untuk menyeleksi atau memilih suatu abstrasi tertentu (konsep, hukum, dalil, aturan, gagasan, cara) secara tepat untuk diterapkan dalam suatu situasi baru dan menerapkannya secara benar. 
4.    Analysis (analisis) mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit.
5.    Synthesis menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yg dibutuhkan.
6.    Evaluation kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya.
Dasar-dasar teori Tylor dan Bloom menjadi prinsip sentral dalam berbagai rancangan kurikulum dan mencapai puncaknya dalam sistem belajar berprogram dan sistem intruksional. Sistem pengajaran yang terkenal adalah IPI (Individually Prescribed Instruct‑on). Suatu program yang dikembangkan oleh Learning Research And Develovment Centre Universitas Pittsburg. Dalam IPI anak mengikuti kurikulum yang memiliki 7 unsur :
1. Tujuan-tujuan pengajaran yang disusun dalam daerah-daerah, tingkat-tingkat dan unit-unit.
2. Suatu prosedur program testing.
3. Pedoman prosedur penulisan.
4. Materi dan alat pengajaran.
5. Kegiatan guru dalam kelas.
6. Kegiatan murid dalam kelas.
7. Prosedur pengelolaan kelas.

3. Evaluasi Model Campuran Multivariasi
      Evaluasi model perbandingan dan model Tylor dan Bloom melahirkan evaluasi model campuran multivariasi, yaitu strategi evaluasi yang menyatukan unsur-unsur dari kedua pendekatan tersebut. Seperti halnya pada eksperimen lapangan serta usaha-usaha awal dari Tylor dan Bloom, metode tersebut masuk kebidang kurikulum dari proyek evaluasi. Metode-metode tersebut masuk ke bidang kurikulum setelah computer dan program paket berkembang yaitu tahun 1960.
Langkah-langkah model multivariasi adalah sebagai berikut:
1. Mencari sekolah yang berminat untuk dievaluasi/diteliti.
2. Melaksanakan program. 
3. Sementara tim penyusun, menyusun tujuan yang meliputi semua tujuan dari pengajara
4. Bila semua informasi yang diharapkan telah terkumpul, maka mulailah pekerjaan computer.
5. Tipe analisis dapat juga digunakan untuk mengukur pengaruh dari beberapa variabel  yang berbeda.
Beberapa kesulitan yang dihadapi dalam model campuran multivariasi, yaitu:
1. Diharapkan memberikan tes statistik yang signifikan.
2. Terlalu banyaknya variabel yang perlu dihitung.
3. Model multivariasi telah mengurangi masalah control berkenaan dengan eksperimen lap    angan tetapi tetap menghadapi masalah-masalah pembandingan.

4. Model EPIC ( Evaluation Program for Innovative Curriculums)
    Model EPIC menggambarkan keseluruhan program evaluasi dalam sebuah kubus. Kubus tersebut mempunyai tiga bidang, yaitu:
   a. Behavior (perlakuan) yang menjadi sasaran pendidikan yang meliputi perilaku                    cognitive, affective dan psychomotor.
   b. Instruction (pengajaran) yang meliputi organization, content, method, facilitiesand, cost.
   c. Kelembagaan yang meliputi student, teacher, administrator, educational specialist,     family and community

5. Model CIPP (Context, Input, Process, dan Product)
    Model CIPP (Context, Input, Process dan Product) yang bertitik tolak pada pandangan bahwa keberhasilan progran pendidikan dipengaruhi oleh berbagai faktor,seperti : karakteristik peserta didik dan lingkungan, tujuan program dan peralatan yang digunakan, prosedur dan mekanisme pelaksanaan program itu sendiri. Evaluasi model  ini bermaksud membandingkan kinerja (performance) dari berbagai dimensi program     dengan sejumlah kriteria tertentu, untuk akhirnya sampai pada deskripsi dan judgment mengenai kekuatan dan kelemahan program yang dievaluasi. Model ini kembangkan oleh Stufflebeam (1972) menggolongkan program pendidikan atas empat dimensi, yaitu :
1. Context : yaitu situasi atau latar belakang yang mempengaruhi jenis-jenis tujuan dan     strategi pendidikan yang akan dikembangkan dalam program yang bersangkutan.
2. Input : bahan, peralatan, fasilitas yang disiapkan untuk keperluan pendidikan.
3. Process : pelaksanaan nyata dari program pendidikan.
4. Product : keseluruhan hasil yang dicapai oleh program pendidikan.

6. Model C – I – P – O – I
     Model pendekatan ini diadopsi dari CIPP-nya Daniel L. Stufflebeam (1971) yang menyatakan bahwa evaluasi dapat membantu proses pengambilan keputusan dalam pengembangan program. Model pendekatan ini terdiri dari :
a. Context Evaluation (C) evaluasi untuk menganalisa problem dan kebutuhan dalam suatu sistem. Kegiatan evaluasi dimaksudkan untuk dilakukan dengan tidak melepaskan diri dari konteks yang membentuk sistem itu sendiri dalam upaya pencapaian tujuan program.
b. Inputs Evaluation (I) mengevaluasi strategi dan sumber-sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan program. Hasil input evaluation dapat membantu pengambil keputusan untuk memilih strategi dan sumber terbaik dalam keterbatasan tertentu untuk mencapai tujuan program.
c. Process Evaluation (P) evaluasi dilakukan dengan maksud memonitor proses     pelaksanaan program.
d. Outputs Evaluation (O) evaluasi dimaksudkan untuk mengukur sampai seberapa jauh     hasil yang diperoleh oleh program yang telah dikembangkan. Tentu saja, hasilnya dapat     digunakan untuk mengambil keputusan apakah program diteruskan, diberhentikan atau     secara total diubah.
e. Impacts Evaluation (I) evaluasi dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana program     yang telah dikembangkan memberikan dampak yang positif dalam jangka waktu yang     lebih panjang.
7. Model 3 P (Program – Proses – Produk)
 Model pendekatan ini merupakan model yang diadopsi dari model yang dikembangkan oleh Raka Joni (1981), esensi dari pendekatan evaluasi model ini, adalah sebagai berikut :
a. Evaluasi Program : yakni merupakan evaluasi yang lebih memfokuskan diri pada evaluasi    perencanaan program, dengan demikian evaluasi dilakukan sebelum program dilaksanakan    untuk menetapkan rasional kelompok sasaran (targetted groups) serta mengidentifikasi   kebutuhan (needs assessment) dan potensi yang ada padanya di samping mengkaji dibelakang meja kesesuaian, perangkat kegiatan program dengan tujuan-tujuan yang   ditetapkan untuk dicapai. Dengan demikian maka evaluasi perencanaan program merupakan   bagian integral dari pada pengembangan program.
b. Evaluasi Proses yaitu evaluasi yang cenderung mengarah pada bentuk monitoring yang dilakukan pada saat kegiatan-kegiatan program berlangsung. Model evaluasi ini sangat penting untuk pengembangan program sebab tidak dengan sendirinya pelaksanaan     kegiatan-kegiatan program sesuai dengan tujuan serta niat yang semula ditetapkan. Dalam     bahasa analisis sistem, evaluasi ini dinamakan evaluasi proses.
c. Evaluasi Produk merupakan evaluasi terhadap aspek hasil yang ditujukan kepada pencapai    an tujuan program baik jangka pendek (hasil antara), maupun jangka panjang (hasil akhir).    Maka, yang hendak dinilai adanya kesesuaian antara tujuan-tujuan yang telah ditetapkan    dengan hasil-hasil yang diperoleh. Di samping itu hasil-hasil sampingan baik yang    dikehendaki maupun yang tidak dikehendaki, dapat dideteksi melalui evaluasi ini.

Menurut Astuti (2012) model‑model evaluasi kurikulum berdasarkan perkembangan evaluasi di Amerika, Inggris  dan Australia dibedakan menjadi:
a.    Model kuantitatif, meliputi model black box tyler, model teoritik taylor dan maguire,   model  pendekatan sistem alkin, model countenance stake.
b.    Model ekonomi.
c.    Model kualitatif, meliputi model studi kasus dan model iluminatif.

1. Model Evaluasi Kuantitatif
Adapun ciri yang menonjol dari evaluasi kuantitatif adalah penggunaan prosedur kuantitatif untuk mengumpulkan data sebagai konsekuensi penerapan pemikiran paradigma positivisme. Sehingga model-model evaluasi kuantitatif yang ada menekankan peran penting metodologi kuantitatif dan penggunaan tes. Ciri berikutnya dari model-model kuantitatif adalah tidak digunakannya pendekatan proses dalam mengembangkan kriteria evaluasi. Berikutnya model-model kuantitatif ini sama-sama memiliki focus evaluasi yaitu pada dimensi kurikulum sebagai hasil belajar. Dimensi ini (hasil belajar) adalah merupakan kriteria pokok bagi model-model kuantitatif. Adapun diantara model-model evaluasi kurikulum yang terkategori sebagai model evaluasi kuantitatif adalah sebagai berikut.


A. Model Black Box Tyler
Model Tyler dinamakan Black Box karena tidak ada nama resmi yang diberikan oleh pengembangnya. Tyler menuangkan karyanya ini dalam sebuah buku kecil tentang kurikulum. Berkat buku inilah kemudian nama dia menjadi terkenal dan dia disegani. Model evaluasi Tyler di bangun atas dua dasar, yaitu: evaluasi yang ditujukan kepada tingkah laku peserta didik dan evaluasi harus dilakukan pada tingkah laku awal peseta didik sebelum suatu pelaksanaan kurikulum serta pada saat peserta didik telah melaksanakan kurikulum tersebut. Berdasar pada dua prinsip ini maka Tyler ingin mengatakan bahwa evaluasi kurikulum yang sebenarnya hanya berhubungan dengan dimensi hasil belajar.
Adapun prosedur pelaksanaan dari model evaluasi Tyler adalah sebagai berikut:
1.    Menentukan tujuan kurikulum yang akan dievaluasi. Tujuan kurikulum yang dimaksud disini adalah model tujuan behavioral. Dan model ini di Indonesia sudah dikembangkan sejak kurikulum 1975. Adapun untuk kurikulum KTSP saat ini maka harus mengembangkan tujuan behavioral ini jika berkenaan dengan model kurikulum berbasis kompetensi.
2.    Menentukan situasi dimana peserta didik mendapatkan kesempatan untuk memperlihatkan tingkah laku yang berhubungan dengan tujuan. Dari langkah ini diharapkan evaluator memberikan perhatian dengan seksama supaya proses pembelajaran yang terjadi mengungkapkan hasil belajar yang dirancang kurikulum.
3.    Menentukan alat evaluasi yang akan digunakan untuk megukur tingkah laku peserta didik. Alat evaluasi ini dapat berbentuk tes, observasi, kuisioner, panduan wawancara dan sebagainya. Adapun instrument evaluasi ini harus teruji validitas dan reliabilitasnya.
v    Kelemahan dari model Tyler
Kelemahan dari model Tyler adalah tidak sejalan dengan pendidikan karena focus pada      hasil belajar dan mengabaikan dimensi proses. Padahal hasil belajar adalah produk dari      proses belajar. Sehingga evaluasi yang mengabaikan proses berarti mengabaikan      komponen penting dari kurikulum.
v    Kelebihan dari model Tyler ini adalah kesederhanaanya. Evaluator dapat memfokuskan kajian evaluasinya hanya pada satu dimensi kurikulum yaitu dimensi hasil belajar. Sedang dimensi dokumen dan proses tidak menjadi focus evaluasi.

B. Model Teoritik Taylor dan Maguire
Model evaluasi kurikulum Taylor dan Maguire ini lebih mendasarkan pada pertimbangan teoritik. Model ini melibatkan variabel dan langkah yang ada dalam proses pengembangan kurikulum. Dalam melaksanakan evaluasi kurikulum sesuai model teoritik Taylor dan Maguire meliputi dua hal, yaitu:
1.    Mengumpulkan data objektif yang dihasilkan dari berbagai sumber mengenai komponen tujuan, lingkungan, personalia, metode, konten, hasil belajar langsung maupun hasil belajar dalam jangka panjang. Dikatakan data objektif karena mereka berasal dari luar pertimbangan evaluator.
2.    Pengumpulan data yang merupakan hasil pertimbangan individual terutama mengenai kualitas tujuan, masukan dan hasil belajar.
Adapun cara kerja model evaluasi Taylor dan Maquaire ini adalah sebagai berikut:
a.    Dimulai dari adanya tekanan/keinginan masyarakat terhadap pendidikan. Tekanan dan tuntutan masyarakat ini dikembangkan menjadi tujuan. Kemudian tujuan dari masyarakat ini dikembangkan menjadi tujuan yang ingin dicapai kurikulum. Adapun dalam pengembangan KTSP maka tekanan dari masyarakat ini dikembangkan pada tingkat Nasional dalam bentuk Standar Isi dan Standar Kompetensi Kelulusan. Dari dua standar ini maka satuan pendidikan mengembangkan visi dan tujuan yang hendak dicapai satuan pendidikan. Kemudian tujuan satuan pendidikan tersebut menjadi tujuan kurikulum dan tujuan mata pelajaran.
b.    Evaluator mencari data mengenai keserasian antara tujuan umum dengan tujuan behavioral. Maka tugas evaluator disini mencari relevansi antara tujuan satuan pendidikan, kurikulum dan mata pelajaran yang berbeda dalam tingkat-tingkat abstraksinya. Dalam tahap ini evaluator harus menentukan apakah pengembagan tujuan behavioral tersebut membawa gains atau losses dibandingkan dengan tujuan umum ditahap pertama.
c.    Penafsiran tujuan kurikulum. Pada tahap ini tugas evaluator adalah memberikan pertimbangan mengenai nilai tujuan umum pada tahap pertama. Adapun dua criteria yang dikemukan oleh Taylor dan Maguaire dalam memberi pertimbangan adalah: pertama, kesesuaian dengan tugas utama sekolah. kedua, tingkat pentingnya tujuan kurikulum untuk dijadikan program sekolah. adapun hasil dari kegiatan ini adalah sejumlah tujuan behavioral yang sudah tersaring dan akan dijadikan tujuan yang akan dicapai oleh mata pelajaran yang bersangkutan.
d.    Mengevaluasi pengembangan tujuan menjadi pengalaman belajar. Tugas evaluator disini adalah menentukan hasil dari suatu kegiatan belajar. Menelaah apakah hasil belajar yang telah diperoleh dapat digunakan dalam kehidupan dimasyarakat. Karena kurikulum yang baik adalah kurikulum yang menjadikan hasil belajar yang diperoleh peserta didik dapat digunakan dalam kehidupannya di masyarakat.
v    Kelebihan dari model ini adalah memberikan kesempatan pada evaluator untuk menerapkan kajian secara komprenhensip. Baik nilai maupun arti kurikulum dapat dikaji dengan menggunakan model ini. Adapun masalahnya bila diterapkan di Indonesia bahwa model ini hanya diterapkan di tingkat satuan pendidikan. Sehingga keseluruhan proses pengembangan kurikulum tingkat nasional tidak dapat dievaluasi dengan model ini.

C.  Model Pendekatan Sistem Alkin
Model Alkin ini sedikit unik karena selalu memasukkan unsur pendekatan ekonomi mikro dalam pekerjaan evaluasi. Adapun pendekatan yang digunakan disebut Alkin dengan pendekatan Sistem. Dua hal yang harus diperhatikan oleh evaluator dalam model ini adalah pengukuran dan control variabel. Alkin membagi model ini atas tiga komponen. Yaitu masukan, proses yang dinamakannya dengan istilah perantara (mediating), dan keluaran (hasil). Alkin juga mengenal sisitem internal yang merupakan interaksi antar komponen yang langsung berhubungan dengan pendidikan dan system eksternal yang mempunyai pengaruh dan dipengaruhi oleh pendidikan. Model Alkin dikembangkan berdasarkan empat asumsi. Apabila keempat asumsi ini sudah dipenuhi maka model Alkin dapat digunakan. Adapun keempat asumsi itu yaitu:
1.    Variabel perantara adalah satu-satunya variabl yang dapat dimanipulasi.
2.     Sistem luar tidak langsung dipengaruhi oleh keluaran sistem (persekolahan).
3.    Para pengambil keputusan sekolah tidak memiliki control mengenai pengaruh yang diberikan system luar terhadap sekolah.
4.    Faktor masukan mempengaruhi aktifitas faktor perantara dan pada gilirannya faktor perantara berpegaruh terhadap faktor keluaran.
v    Kelebihan dari model ini adalah keterikatannya dengan sistem. Dengan model pendekatan sistem ini kegiatan sekolah dapat diikuti dengan seksama mulai dari variabl-variabl yang ada dalam komponen masukan, proses dan keluaran. Komponen masukan yang dimaksudkan adalah semua informasi yang berhubungan dengan karakteristik peserta didik, kemampuan intelektual, hasil belajar sebelumnya, kepribadian, kebiasaan, latar belakang keluarga, latar belakang lingkungan dan sebagainya.
v    Kelemahan dari model Alkin adalah keterbatasannya dalam fokus kajian yaitu yang hanya fokus pada kegiatan persekolahan. Sehingga model ini hanya dapat digunakan untuk mengevaluasi kurikulum yang sudah siap dilaksanakan disekolah.

D. Model Countenance Stake
Model countenance adalah model pertama evaluasi kurikulum yang dikembangkan oleh Stake. Stake mendasarkan modelnya ini pada evaluasi formal. Evaluasi formal adalah evaluasi yang dilakukan oleh pihak luar yang tidak terlibat dengan evaluan. Model countenance Stake terdiri atas dua matriks. Matrik pertama dinamakan matriks deskripsi dan yang kedua dinamakan matriks pertimbangan.
1. Matrik Deskripsi
Matrik deskripsi adalah sesuatu yang direncanakan (intent) pengembang kurikulum dan program. Dalam konteks KTSP maka kurikulum tersebut adalah kurikulum yang dikembangkan oleh satuan pendidikan. Sedangkan program adalah silabus dan RPP yang dikembangkan guru. Kategori kedua adalah observasi, yang berhubungan dengan apa yang sesungguhnya sebagai implementasi dari apa yang diinginkan pada kategori pertama. Pada kategori ini evaluan harus melakukan observasi mengenai antecendent, transaksi dan hasil yang ada di satu satuan pendidikan atau unit kajian yang terdiri atas beberapa satuan pendidikan.
2. Matrik Pertimbangan
Dalam matrik ini terdapat kategori standar, pertimbangan dan fokus antecendent, transaksi, autocamo (hasil yang diperoleh). Standar adalah kriteria yang harus dipenuhi oleh suatu kurikulum atau program yang dijadikan evaluan. Berikutnya adalah evaluator hendaknya melakukan pertimbangan dari apa yang telah dilakukan dari kategori pertama dan matrik deskriptif.

2. Model Ekonomi Mikro
Model ekonomi mikro adalah model yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Sebagaimana model kuantitatif lainnya, maka model ekonomi mikro ini focus pada hasil (hasil dari pekerjaan, hasil belajar dan hasil yang diperkirakan). Model dilingkungan ekonomi mikro ada empat, adapun yang tepat digunakan dalam evaluasi kurikulum adalah model cost effectiveness. Dalam model cost effectiveness ini seseorang evaluator harus dapat membandingkan dua program atau lebih, baik dalam pengertian dana yang digunakan untuk masing-masing program maupun hasil yang diakibatkan oleh setiap program. Perbandingan hasil ini akan memberikan masukan bagi pembuat keputusan mengenai program mana yang lebih menguntungkan dilihat dari hubungan antara dana dan hasil. Dalam mengukur hasil di gunakan instrument yang sudah di standarisasi. Pengunaan instrument standar penting karena dengan demikian perbandingan antara biaya dan hasil dapat dilakukan secara berimbang.

3. Model Evaluasi Kualitatif
Model evaluasi kualitatif selalu menempatkan proses pelaksanaan kurikulum sebagai fokus utama evaluasi. Oleh karena itulah dimensi kegiatan dan proses lebih mendapatkan perhatian dibandingkan dimensi lain. Terdapat tiga model evaluasi kualitatif, yaitu sebagai berikut:
a. Model Studi Kasus
Model studi kasus (case study) adalah model utama dalam evaluasi kualitatif. Evaluasi model studi kasus memusatkan perhatiannya pada kegiatan pengembangan kurikulum di satu satuan pendidikan. Unit tersebut dapat berupa satu sekolah, satu kelas, bahkan terdapat seorang guru atau kepala sekolah. Adapun datanya juga akan berupa data kualitatif yang dianggap lebih memberikan makna dibanding data kuantitatif yang kering. Namun demikian kualitatif tidak menolak secara mutlak data kuantitatif.
2. Model Iluminatif
Model ini mendasarkan dirinya pada paradigma antropologi social. Model ini juga memberikan perhatian tidak hanya pada kelas dimana suatu inovasi kurikulum dilaksanakan. Adapun dua dasar konsep yang digunakan model ini adalah:
1. Sistem intruksi
Sistem intruksional disini diartikan sebagai catalog, perpekstus, dan laporan-laporan kependidikan yang secara khusus berisi berbagai macam rencana dan pernyataan yang resmi berhubungan dengan pengaturan suatu pengajaran. KTSP sebagai hasil pengembangan standar isi dan standar kompetensi lulusan di suatu satuan pendidikan adalah suatu system instruksi.
2. Lingkungan belajar
Lingkungan belajar ialah lingkungan social-psikologis dan materi dimana guru dan peserta didik berinteraksi. Dalam langkah pelaksanaannya, model evaluasi iluminatif memiliki tiga kegiatan. Yaitu:
a. Observasi
Observasi adalah kegiatan yang penting. Dalam observasi evaluator dapat mengamati langsung apa yang sedang terjadi disuatu satuan pendidikan. Evaluator dapat melakukan studi dokumen, wawancara, penyebaran kuesioner, dan melakukan tes untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan. Isu pokok, kecenderungan, serta persoalan yang teridentifikasi merupakan pedoman bagi evaluator untuk masuk kedalam langkah berikutnya.
b. Inquiri lanjutan
Tahap inkuiri lanjutan ini evaluator tidak berpegang teguh terhadap temuannya dalam langkah pertama. Kegiatan evaluator dalam tahap ini adalah memantapkan isu, kecenderungan, serta persoalan-persoalan yang ada sampai suatu titik dimana evaluator menarik kesimpulan bahwa tidak ada lagi persoalan baru yang muncul.
c. Penjelasan
Dalam langkah memberikan penjelasan ini evaluator harus dapat menemukan prinsip-prinsip umum yang mendasari kurikulum disatuan pendidikan tersebut. sDisamping itu evaluator harus dapat menemukan pola hubungan sebab akibat untuk menjelasakan mengapa suatu kegiatan dapat dikatakan berhasil dan mengapa kegiatan lainnya dikatakan gagal. Penjelasan merupakan hal penting dalam metode iluminatif.

3.1.    Kesimpulan
1.Evaluasi kurikulum memegang perenan penting baik dalam penetuan kebijaksanaan pendidikan pada umumnya, maupun pada pengambilan keputusan dalam kurikulum.Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebjaksanaan pendidikan  dan para pemegang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebjaksanaan pengembangan sistem pendidikan  dan  pengembanagan  model  kurikulum  Yang digunakan. Hasil-hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru, kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya, dalam memahami dan membantu perkembangan siswa, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian dan fasilitas pendidikan lainnya.
2.    Model-model evaluasi kurikulum berdasarkan perkembangan evaluasi di Amerika, Inggris dan Australia dibedakan menjadi:
a.    Model kuantitatif. meliputi model Black Box Tyler, Model Teoritik Taylor dan   Maguire, Model Pendekatan Sistem Alkin, Model Countenance Stake.
b.    Model Ekonomi.
c.      Model Kualitatif. meliputi model studi kasus dan model iluminatif.